Rabu, 23 Juli 2014

Sayap - Sayap Patah

Wahai Langit…
Tanyakan pada-Nya ,
Mengapa dia menciptakan sekeping hati ini ,
Begitu rapuh dan mudah terluka ?
Saat dihadapkan dengan duri-duri cinta ,

Begitu kuat dan kokoh saat berselimut cinta dan asa ?
Mengapa dia menciptakan rasa sayang dan rindu di dalam hati ini ?
Mengisi kekosongan di dalamnya ,
Menyisakan kegelisahan akan sosok sang kekasih ,
Menimbulkan segudang tanya ,
Menghimpun berjuta asa ,
Memberikan semangat, juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira ?

Mengapa dia menciptakan kegelisahan dalam relung jiwa ?
Menghimpit bayangan ?
Menyesakkan dada , Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa ?

Wahai ilalang… Pernah kah kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini ?
Mengapa kau hanya diam ?
katakan padaku Sebuah kata yang bisa meredam gejolak hati ini ,
Sesuatu yang dibutuhkan raga ini ,
Sebagai pengobat tuk rasa sakit yang tak terkendali .

Desiran angin membuat berisik dirimu,
Seolah ada sesuatu yang kau ucapkan padaku,
Aku tak tahu apa maksudmu ?
Hanya menduga .
Bisikanmu mengatakan ada seseorang di balik bukit sana ,
Menunggumu dengan setia Menghargai apa arti cinta .

Hati yang terjatuh dan terluka ,
Merobek malam menoreh seribu duka ,
Kukepakkan sayap-sayap patahku ,
Mengikuti hembusan angin yang berlalu ,
Menancapkan rindu .



Disudut hati yang beku ,
Dia retak, hancur bagai serpihan cermin berserakan,
Sebelum hilang di terpa angin ,
Sambil terduduk lemah ,
Ku coba kembali mengais sisa hati ,
Bercampur baur dengan debu ingin kurengkuh ,
Ku gapai kepingan di sudut hati.
Hanya bayangan yang ku dapat .

Ia menghilang saat mentari turun dari peraduannya ,
Tak sanggup kukepakkan kembali sayap ini ia telah patah ,
Tertusuk duri-duri yang tajam ,
Hanya bisa meratap Meringis ,
Mencoba menggapai sebuah pegangan



                                                                                                        ( Kahlil Gibran  )


2 komentar: