Siang ini, aku sedang duduk dan membuka ingatan tentangmu.
Tentang kita dulu yang tak bisa aku lupakan sampai hari ini.
Tentang kita dulu yang tak bisa aku lupakan sampai hari ini.
Seperti yang kau tau,
aku akan bahagia sekali saat mengingatmu.
Jika ada waktu, aku selalu menyempatkan diri untuk mengingatmu walau hanya sedetik saja.
Mengingatmu, entah mengapa, selalu saja mendatangkan
rasa bahagia tersendiri bagiku.
rasa bahagia tersendiri bagiku.
Dan siang ini,
ada ingatan yang hendak aku putar kembali tentang kita di sini.
Tak apa ya, aku menuliskannya ?
aku harap kamu ga akan marah .
langsung pada bagian yang aku suka.
karena aku begitu senang mengingat bagian ini,
yaitu pada saat pertemuan kita.
Ya, semoga kau tak keberatan.
Tentu kau masih ingat, betapa kita berdua
seperti kedua orang yang baru dipertemukan kembali oleh Tuhan setelah
dipisahkan selama beribu-ribu tahun.
dipisahkan selama beribu-ribu tahun.
Saling berbagi cerita tentang dunia yang kita arungi sebelum akhirnya kita bertemu.
Meski obrolan kita terasa canggung diawal pertemuan, tapi jelas, baik
aku maupun kau, tak ada yang ingin berpisah.
aku maupun kau, tak ada yang ingin berpisah.
atau mungkin hanya aku tak pernah ingin berpisah dengan mu, tapi kau justru sebaliknya.
Entahlah,
bersamamu, membuat dada ini merasakan lagi hangat cinta.
Aku betah dan tak ingin pergi menjauh.
Seolah aku besi dan kau magnet.
Tapi ada alasan kuat yang mengharuskan kita untuk kembali
berpisah.
berpisah.
Kita,
eemm...
maap salah, maksudku, kau kemudian menyadari sepenuhnya jika
pertemuan ini tak boleh terjadi.
pertemuan ini tak boleh terjadi.
Kemudian kau meminta agar kita berusaha saling berlari menjauh dan mulai saling melupakan.
Baiklah,
kuturuti maumu.
kuturuti maumu.
Aku berusaha berlari menjauh sekuat tenaga seperti maumu,
meski tetap aku rasakan ada rantai pemberat di kaki yang membuatku sia-sia
berusaha melarikan diri darimu.
Dan setelah sekian lama berusaha, aku tau, kau berhasil melakukannya.
Kulihat kau baik2 saja setelah perpisahan itu.
Sementara aku, masih disini menjalani hari hari yang membuat aku tersiksa karna perpisahan kita.
Terdiam, Meringkuk mengasihani nasib sambil
membiarkan hujan jatuh dan memburamkan kedua jendela mataku.
membiarkan hujan jatuh dan memburamkan kedua jendela mataku.
Berbeda denganmu, kau rupanya berusaha lebih baik dari aku.
Kau memilih menyingkirkan kenangan, menghapusnya.
Tak pernah sedikit pun kau mengatakan
perasaanmu tentang cinta atau pun rindu seperti yang masih demikian
nyeri aku rasakan ketika kenangan-kenangan tentang kita melintas di ingatan ku.
perasaanmu tentang cinta atau pun rindu seperti yang masih demikian
nyeri aku rasakan ketika kenangan-kenangan tentang kita melintas di ingatan ku.
Tapi, jika kau menyangka tak ada lagi cinta yang aku rasakan,
tak pernah adaluka yang tercipta karena perpisahan, dan menyangka waktu telah
menyembuhkan segalanya, kau keliru.
menyembuhkan segalanya, kau keliru.
Aku tak pernah bisa sepertimu.
Aku, yang selalu berpura-pura jika selama ini aku baik-baik saja.
Aku, yang selalu berpura-pura tak pernah ada luka dan seolah waktu telah
menyembuhkan segalanya.
Aku, yang selalu berpura-pura tak pernah ada luka dan seolah waktu telah
menyembuhkan segalanya.
Itu kulakukan agar kau bahagia.
Berkali-kali tanya singgah di hatiku,
" Apa kau memiliki rasa yang sama seperti aku?"
" Apa kau sering membohongi diri sendiri ?"
" Apa kau tak merindukan dan mengingatku lagi ? ''
Entahlah, demikianlah aku mengingatmu.
Dan tau kah kau, apa yang aku pikirkan sekarang?
Dalam hari-hari aku terakhir kali melihatmu, dan kau melihatku, pernah kah kau mengingat aku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar