Aku benci mengingat bagaimana caramu tersenyum. Aku benci menyadari
bahwa senyum itulah yang selalu berhasil membuatku jatuh cinta dan
terpana. Aku benci mengingat setiap lekuk wajahmu. Aku benci menerima
kenyataan bahwa hari ini, aku tidak lagi punya kesempatan untuk
memandangimu.
Setelah aku memintamu pergi, tentu ada yang berbeda
di sini. Kamu tidak tahu hari-hari penuh ketakutan yang aku lewati
tanpa membaca pesan darimu. Kamu tidak mengerti hari-hari yang kurasa
semakin sepi karena tidak lagi mendengar suaramu. Kamu tidak paham
betapa aku merindukan caramu memelukku, caramu merangkulku, caramu
menenangkan bahwa dunia tidak akan meledak, dan aku percaya begitu saja
pada kata-katamu seakan kamu telah membaca semua pertanda dalam hidupku.
waktu itu, sambil memelukku dan meyakinkan diriku bahwa aku tidak
akan pernah kehilangan kamu. Aku percaya kamu akan membahagiakanku,
dengan segala macam ketulusan. Aku percaya sepenuh hati, bahwa
sebenarnya kamu hanya mencintaiku,. Aku percaya, semua rasa mengalah
yang aku berikan, semua air mata yang terjatuh saat aku memelukmu dengan
perasaan rindu itu, akan segera berganti menjadi kedamaian seutuhnya.
Aku tidak tahu, mengapa aku percaya begitu saja, dalam dirimu, kulihat
sosok yang sama dengan diriku, hanya saja kamu laki-laki dan aku
perempuan. Aku jatuh cinta padamu karena aku merasa sedang mencintai
diriku sendiri. Aku percaya padamu dan telah menjadikanmu separuh dari
diriku, setelah memutuskan untuk meninggalkanmu, aku benar; memang pada
akhirnya aku kehilangan setengah dari diriku. Aku kini menjalani hari,
sebagai aku yang tidak utuh.
Sehari setelah memintamu pergi,
masih kurasa ketidakyakinanku untuk meninggalkanmu. Hal itu pun masih
terjadi, ketika semua tentangmu telah kuhapus dari memori ponselku.
Seringkali, terbesit dari pikiranku untuk memintamu kembali, tetapi aku
pada akhirnya sadar diri, aku tidak bisa selalu berada di keadaan
seperti ini.
Kamu ingat? Malam hari, pukul dua belas malam,
ketika kita bertengkar hebat kala itu, kamu mengutarakan rasa kecewamu
karena kamu merasa aku telah melanggar peraturan. Kamu merasa aku mulai
berbahaya untukmu dan untuk hubungan kita.. Kamu marah ketika aku
sepolos itu menceritakan rasa sakit hatiku dalam seluruh tulisan di
sosial mediaku. Kamu memintaku menghentikan semua dan kita berjalan
dengan alur serta peraturan yang kamu buat sendiri.
Kamu tahu,
malam itu, aku membaca pesanmu dengan perasaan hancur. Hari itu, aku
menyadari bahwa sebenarnya kamu tidak membutuhkanku lebih dari sekadar
teman yang mengisi kekosonganmu. Malam itu, ketika kamu memintaku tidak
lagi menulis tentangmu, aku menyadari bahwa cerita kita tidak akan tamat
dengan akhir bahagia. Dan, kubalas pesanmu, dengan kejujuran yang aku
simpan sendiri. Kujawab mengapa aku hanya berani menuangkan kesedihanku
dalam semua tulisanku, karena aku tidak mungkin menceritakan sosokmu
pada siapapun, karena aku tidak mungkin menceritakan betapa bahagianya
mencintaimu pada sahabat-sahabatku. Mereka yang tahu, pasti menyuruhku
untuk segera melepasmu pergi, sedangkan di titik itu, aku sedang dalam
keadaan sangat mencintaimu.
Menulis tentangmu adalah caraku untuk
menyembunyikanmu, sebenarnya. Hal itulah yang tidak kamu mengerti,
hingga melarangku untuk melakukan segalanya yang kaurasa bisa
membahayakan hubungan ini. tapi kamu tidak pernah terlalu takut untuk
kehilangan aku.
Karena bagimu, untuk mendapatkan perempuan
sepertiku, bisa kamu lakukan dengan jentikan jari. Karena bagimu, untuk
mendapatkan teman senang-senang, yang bisa kaupeluk dan kaurangkul,
bukanlah hal yang sulit dilakukan. Sayangnya, aku terlalu bodoh
menyadari di awal. Aku tidak bisa sejahat untuk menganggapmu hanya
sekadar teman senang-senang. Aku tidak bisa untuk tidak melibatkan
perasaan dalam hubungan kita. Apalagi di dukung oleh caramu yang serius
menatapku, caramu berkata cinta padaku, caramu memelukku dengan pelukan
tidak ingin kehilangan.
Aku tidak bisa menjadi jahat ketika aku jatuh cinta padamu, meskipun dari awal kamu telah begitu jahat untuk ku.
Rasa takut untuk terus menjadi jahat telah membayang-bayangiku. Aku bahkan ingin sepenuhnya memilikimu, aku bahkan tidak ingin pelukmu kauberikan untuk wanita lain, aku bahkan ingin meraup habis seluruh waktumu agar aku bisa menjadi duniamu. Aku menyerah menjadi orang jahat, karena berjalan dalam ketakutan akan kehilanganmu setiap saat bukanlah hari-hari yang menyenangkan untuk dijalani.
Rasa takut untuk terus menjadi jahat telah membayang-bayangiku. Aku bahkan ingin sepenuhnya memilikimu, aku bahkan tidak ingin pelukmu kauberikan untuk wanita lain, aku bahkan ingin meraup habis seluruh waktumu agar aku bisa menjadi duniamu. Aku menyerah menjadi orang jahat, karena berjalan dalam ketakutan akan kehilanganmu setiap saat bukanlah hari-hari yang menyenangkan untuk dijalani.
Aku memilih
mengakhiri, melepaskanmu pergi, dan hidup dengan rasa sakit hatiku
sendiri. Malam hari, ketika aku memintamu pergi, kamu berkata bahwa
tidak hanya aku yang terluka, tetapi kamupun merasakan luka yang sama.
Aku yakin, itu hanyalah kalimat penghiburan semata, karena kamupun juga
kaget ketika tahu ternyata aku punya kekuatan sebesar itu untuk
meninggalkanmu. Kamu tentu begitu percaya diri bahwa aku tidak akan
memintamu pergi dan bertahan. Tapi, wahai
Sayangku-yang-aku-cintai-karena-kelemahanmu-itu, aku ingin memberitahu
padamu, rasa memiliki dirimu kian hari kian besar, Kita mengawali semua
dengan buruk, dan inilah saatnya aku mengakhiri semuanya.
Melepaskanmu pergi adalah keputusan yang kupilih. Kamu berkata tidak
hanya aku yang terluka, tapi kamupun juga terluka. Namun, nyatanya,
perkataanmu tidak terbukti sama sekali. Kamu tetap bahagia dengan teman -
temanmu dan bisa menganggap aku tidak pernah ada dalam hidupmu. Tapi,
aku akan berjalan sendirian, meninggalkan kamu yang di belakang, dan
kembali menata hatiku yang telah kau hancurkan. Jadi, aku tidak perlu
berpanjang lebar, siapa yang sebenarnya paling sakit di sini.
Aku
tidak ingin menjadi jahat lagi. Karena aku cukup bahagia menjadi aku
yang sekarang. Aku sudah cukup bahagia, melihatmu tetap bahagia bersama
duniamu, dan tidak lagi membutuhkan pelukku. Aku sudah cukup bahagia
hanya dengan menatapmu dari jauh. Aku sudah cukup bahagia merawat luka
dengan tanganku sendiri.
Aku percaya, Tuhan akan menyembuhkanku.
Aku percaya, waktu akan memperbaiki semua. Alasan terkuat untuk
bersamamu adalah aku ingin mengajakmu pulang, tapi aku tidak bisa
memaksa orang yang sudah terlalu jauh pergi untuk kembali ke ke rumah
yang harusnya dia tempati. Jika bagimu duniamu adalah jalan pulang yang
tepat, silakan lakukan dan jalani sebisamu.
aku cukup melihatmu dari sini dan mendoakan mu semoga kau selalu bahagia dengan dunia mu . tanpa aku yang akan mengganggumu .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar